Tampilkan postingan dengan label penyakit burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit burung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juli 2013

Gejala kejang yang menyerang burung kakatua

Gejala kejang yang menyerang burung kakatua
Gejala kejang yang menyerang burung kakatua - Kejang pada burung dapat sebagai ringan sebagai tremor atau separah seperti kejang-kejang tidak sadar. Ketika di tengah kejang, kakatua Anda mungkin hanya bergidik seakan terjebak dalam rancangan, atau flap sekitar tak terkendali dan jatuh ke dasar sangkar, atau ke lantai. Kakatua, seperti semua burung lainnya, rentan terhadap serangan yang dapat disebabkan oleh beberapa hal.
  • Nutrisi dan Sunlight
Dehidrasi karena kekurangan air yang memadai merupakan penyebab utama kejang pada kakaktua. Kekurangan makanan lainnya termasuk kalsium dan vitamin D. cukup kakatua, seperti semua burung beo, membutuhkan lebih dari sekedar benih untuk diet baik-bulat. Mereka harus diberi makan berbagai buah-buahan dan sayuran bersama dengan sumber pelet yang baik untuk memastikan mereka mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan.

Sinar matahari juga merupakan kebutuhan vital untuk kesehatan burung disimpan di dalam ruangan. Kakatua yang dipelihara sebagai hewan peliharaan harus diberikan eksposur luar ruangan (di lingkungan yang aman) sinar matahari selama beberapa jam sehari. Sinar matahari jendela cukup karena kaca menyerap sinar UVB yang dibutuhkan untuk membuat vitamin D. Jika eksposur luar ruangan tidak memungkinkan, lampu UVB harus tersedia beberapa jam sehari di atas kandang mereka.
  • Infeksi
Sebuah tanda-tanda kakatua menunjukkan kejang harus diuji untuk penyakit menular seperti PDD (macaw buang penyakit), virus West Nile, dan aspergilosis (biasanya disertai dengan keluarnya cairan dari hidung). Dalam kebanyakan kasus, kakatua yang dipengaruhi oleh penyakit baik mati atau sembuh tanpa perawatan hewan, tetapi penting untuk mengetahui penyebab penyakit dan mengisolasi mereka dari burung lain untuk mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain.
  • Penyakit
Kejang yang paling sering dibawa oleh penyakit yang mempengaruhi otak. Tumor, infeksi dan penyakit yang menyebabkan hilangnya fungsi otak adalah penyebab medis terkait kemungkinan besar kejang pada kakaktua. Ada penyebab penyakit lain terkait kejang yang lebih lingkungan, seperti keracunan dari logam beracun yang digunakan dalam kandang yang tidak pantas, atau paparan mainan logam atau peralatan. Tanaman beracun dan bahan kimia lainnya juga dapat menyebabkan kejang pada kakaktua dan semua burung peliharaan.
  • Pengobatan
Pengobatan akan sangat tergantung pada penyebab kejang. Dalam semua kasus, kakatua perlu tetap hangat, kering dan pada area terbatas sehingga tidak dapat menyakiti dirinya sendiri ketika menjerit selama kejang.
  • Peringatan
Penting untuk dicatat bahwa burung, sedang berburu binatang, menyembunyikan penyakit yang sangat baik. Pada saat gejala-gejala fisik yang terlihat dalam cara yang ekstrim dan mudah didefinisikan, burung mungkin dekat dengan kematian. Pemilik harus waspada dalam mengamati burung mereka untuk tanda-tanda perubahan dalam nafsu makan, sikap sikap, atau sikap. Perubahan di daerah manapun harus menghasilkan kunjungan ke dokter hewan unggas.

Ketika pulih dari kejang, pastikan untuk menjaga tenang kakatua dan memberi mereka waktu untuk perlahan-lahan mendapatkan kembali keseimbangan dan kontrol otot-otot mereka.

sumber: kutubuku.web.id

Jumat, 28 Juni 2013

Macam-macam cacing yang menggagu burung

Macam-macam cacing yang menggagu burung - Berbagai jenis cacing beserta akibat yang ditimbulkannya sering kali ditemukan di dalam tubuh burung. Di antaranya yang banyak dijumpai adalah cacing tenggorokan (Syngamus trachea), cacing rambut (Capillaria sp.), cacing gelang (Ascaridia sp.), dan cacing pita (Cestoda).

1) Cacing tenggorokan
Gejala: Burung tampak batuk-batuk, bersin, dan menggoyang-goyangkan kepala sambil menghilangkan lendir yang keluar dari lubang hidungnya.

Penyebab: Penyakit ini disebabkan parasit cacing tenggorokan. Cacing ini hidup di daerah tenggorokan yang dapat menyumbat saluran pernapasan sehingga dapat menyebabkan kematian.

2) Cacing rambut
Gejala: Tidak ada gejala yang khas. Gejala yang tampak hanyalah burung menderita diare. Namun, jika seekor burung terkena maka akan menjalar dengan cepat kepada seluruh penghuni sangkar tersebut sampai akhir-nya dapat mematikan seluruh isi sangkar tersebut.

Penyebab: Penyakit ini disebabkan oleh serangan cacing rambut. Infeksi cacing dapat melalui pakan, minuman, dan tanah yang tercemar oleh telur cacing. Di dalam tubuh inang, cacing hidup pada selaput mukosa usus yang menyerap sari makan melalui darah burung yang dihisapnya.

3) Cacing gelang
Gejala: Serangan cacing ini tidak menimbulkan gejala yang khas. Akibat serangan cacing ini dapat menimbulkan penyakit kurang darah (anemia) dan keracunannya pada burung inang oleh ekskresi buangan dari parasit. Demikian juga kebiasaan cacing ini menggerombol pada satu tempat dapat menyebabkan tersumbatnya usus sehingga berakibat burung inang mati.

Penyebab: Cacing gelang menjadi penyebab sakitnya burung-burung dari suku paruh bengkok, merpati, dan unggas.

Tanah yang terinfeksi cacing dapat dikeduk bagian atasnya kemudian diberikan kapur pertanian serta disemprot dengan larutan desinfektan, seperti FreshAves.

4) Cacing pita
Gejala: Cestodiosis dapat disebabkan oleh berbagai jenis cacing pita, se-perti Davainea proglottina, Raillietina sp., Amoebotaenia sphenoides, dan Choanotaenia infundibulum. Gejala umum yang tampak pada burung yang terserang cestodiosis adalah lesu, pucat, kurus, anoreksia (tidak mau makan), sedikit diare. Cestodiosis davainea dapat menye-babkan burung tampak selalu membuka paruhnya seperti kehausan, sedangkan cestodiosis raillietina dapat menyebabkan bulu burung men-jadi kasar.

Penyebab penyakit ini adalah cacing pita. Cacing pita yang terpendek adalah Davainea proglottina (0,5 mm—3 mm) dan yang terpanjang adalah Raillietina tetragona dan R. echinobothrida (25 cm).
Selain pengobatan terhadap cacing, upaya pencegahan juga perlu dilakukan. Hewan perantaranya yaitu lalat dan siput darat perlu dibasmi. Hewan ini dapat menularkan telur-telur cacing yang dimakan pada inangnya, yaitu unggas dan burung.

sumber: omkicau.com

Rabu, 22 Mei 2013

Cara mengobati penyakit sesak napas pada burung

Cara mengobati penyakit sesak napas pada burung
Cara mengobati penyakit sesak napas pada burung - Banyak sekali penghobi burung yang mendapatkan burung kesayangan mereka sesak nafas. Tanda-tanda lain yang biasa menyertai sesak nafas adalah burung seperti kedinginan, suara parau atau bahkan hilang, paruh banyak terbuka, ditambah bersin-bersin dan tidak lahap makan tetapi banyak minum. Dalam kondisi seperti ini, jika penanganan tidak benar, seringkali membawa kematian pada si burung. Dalam kondisi seperti ini pula, ada penghobi yang memberikan cairan madu, air gula dan sebagainya. Namun burung tidak membaik atau sembuh, bahkan mati.

Hal ini pernah pula ditanyakan seorang penghobi burung kepada Drh Dharmojono seperti termuat dalam buku “Aneka Permasalahan Burung dan Ayam Hias” (terbitan Penebar Swadaya). Si dokter hewan senior ini menjawab bahwa beliau tidak bisa menentukan secara persis penyebab burung sesak nafas karena diperlukan pengujian-pengujian seperti ingus, feses dan otopsi. Namun demikian, berdasar tanda-tanda yang diceritakan pemilik burung, dokter hewan mengatakan ada kemungkinan burung terkena psitacosis atau bronchitis infeksiosa (radang saluran nafas) atau bisa juga asma paru (asthma bronchiale). Kedua penyakit pertama menular sedangkan yang ketiga tidak menular karena hanya karena alergi.

Jika burung Anda mengalami hal seperti itu, maka coba perhatikan lingkungan Anda akhir-akhir ini, hujan deras, angin kencang, ada renovasi bangunan sehingga banyak debu dan cat, mandi atau dimandikan secara berlama-lama (tidak segera dikeringkan), keadaan udara pengap atau atau panas, serta kurungan digantang terlalu dekat dengan atap dan sebagainya. Semua hal tersebut dapat menyebabkan stres yang kebetulan diperlihatkan sebagai asma.

Dalam kondisi seperti ini, pemberian madu dan sebagainya memang tidak salah karena madu mengandung banyak energi, vitamin dan mineral serta mudah dicerna. Hanya penanganan salah menyebabkan burung mati. Penanganan salah bisa dalam cara memegang burung dan bisa juga waktu pemberiannya. Dalam keadaan susah bernafas, apabila bagian dada didekap atau digenggam, maka kesulitan bernafas akan semakin parah. Di dalam mulut atau jalan nafasnya mungkin terdapat lendir yang menghambat jalan nafasnya.

Dalam keadaan seperti ini, apabila ditetesi madu atau cairan lain yang kental, akan menambah hambatan dalam mulut dan jalan pernafasan. Dengan demikian akan lebih baik jika dilakukan tindakan sebagai berikut:
  • Tutup kurungan pada 3 sisi dengan kain atau kertas koran sebagai selimut untuk melindungi dari angin dan udara dingin. Hangatkan lingkungan dengan lampu atau penghangat ruangan sehingga suhu berada sekitar 32-35 derajat celsius.
  • Ambil cawan berisi air hangat danl letakkan cawan tersebut di sisi kurungan yang tidak tertutup. Tambahkan minyak angin (Eucalyptus oil) ke dalam cawan atau bisa juga memakai Vicks agar uapnya terhisap oleh burung sehingga terjadi pemekaran (dilatasi) saluran nafas.
  • Setelah gejala susah nafas hilang, hisap lendir di celah mulut dan palatumnya (celah di atas mulut) dengan menggunakan kapas (cotton bud, dsb) yang steril, juga di bagian lubang hidung (mostril). Setelah itu baru teteskan madu atau air oralit sehingga burung mendapatkan energi.
Pengobatan

Pengobatan burung sakit dengan gejala sesak nafas dan sebagainya memang tidak bisa dilakukan sembarangan. Anda perlu mendatangi dokter hewan. Namun jika memang tidak ada dokter hewan di sekitar Anda, minimal harus dilakukan sejumlah penanganan sesuai sakitnya. Celakanya memang, hampir semua penyakit burung mempunyai gejala-gejala klinis yang sangat mirip atau tidak bersifat khas. Penentuan penyakit yang pasti hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium.

Oke… kalau tidak ada dokter hewan juga tidak ada laboratorium, maka yang perlu Anda lakukan adalah memberikan antibiotik. Lantas antibiotik seperti apa yang harus kita berikan?

Sebelum saya berbicara mengenai antibiotik, mohon Anda memahami dulu tulisan saya sebelumnya tentang Ketika antibiotik pun angkat tangan hadapi penyakit burung, Anda mau bilang apa? Dengan membaca artikel itu, Anda bisa mengetahui seberapa jauh manfaat atau efek antibiotik dalam mengatasi burung sakit.

Kalau Anda sedang ogah membacanya, ya saya sebutkan saja langsung antibiotik yang biasanya mudah didapat di manapun dan persiapan umum menangani burung sakit:
  • Isosalikan burung. Lakukan tindakan sanitasi dan higiene kandang serta peralatannya untuk menghindari berulangnya infeksi kuman.
  • Dalam minuman atau makanan bubuhkan BirdBlown atau BirdTwitter selama 7-10 hari, dengan dosis dan cara pemakaiannya mengikuti petunjuk pemakaian obat yang Anda pakai.
  • Tambahkan vitamin dan mineral dalam makanan atau air minumnya (misalnya BirdVit).
Jika tindakan tersebut sudah Anda lakukan tetapi burung Anda tidak tertolong, maka kita harus merelakannya. Yang penting kita sudah melakukan hal terbaik untuk burung-burung kita.

sumber: omkicau

Rabu, 20 Februari 2013

Penyakit cacingan pada burung perkutut dan cara mengatasinya

Penyakit cacingan pada burung perkutu dan cara mengatasinya
Penyakit cacingan adalah penyakit yang sering di derita perkutut. Penyakit ini biasanya di idap oleh perkutut yang baru di beli dari peternak (kebanyakan peternakan menggunakan alas kandang berupa tanah yang merupakan media perkembang biakan cacing) atau dari pasar burung. Meskipun tidak semua peternak menggunakan media tanah sebagai alas kandang ternak, tetap ada baiknya jika perkutut yang baru anda beli di beri obat cacing supaya lebih terjamin kesehatannya.

Perkutut yang cacingan akan menunjukan gejala seperti malas bunyi, kotoran mencret, tidak nafsu makan, badan kurus dan wajah terlihat tidak segar. Terkadang cacingan juga di sertai gejala bulu mengkorok (berdiri). Jika di biarkan, penyakit cacingan ini bisa menyebabkan perkutut menjadi semakin malas berbunyi dan bahkan lumpuh.

Pengobatan perkutut cacingan

Perkutut yang mengidap cacingan bisa di obati dengan cara pemberian obat cacing untuk manusia (mis: combantrin).

Dosis yang di gunakan untuk perkutut adalah pecahan combantrin tablet sebesar biji kacang hijau. Jangan gunakan dosis yang terlalu besar karena bisa menyebabkan kerusakan pada saluran cerna sehingga burung akan menjadi malas makan.

Obat cacing juga bisa menggunakan obat khusus seperti exitor dengan menggunakan dosis sesuai dng yang terlampir di kemasan. Obat cacaing ini biasanya mudah di temui di kios-kios burung.
(sumber: perkutut-sby.com)

Jumat, 19 Oktober 2012

Macam-macam penyakit yang sering menyerang burung

Macam-macam penyakit yang sering menyerang burung
Banyak pengunjung agroburung.com yang selalu mengeluhkan burung mereka yang sakit dan mereka bertanya bagaimana pengobatannya. Burung memang termasuk binatang yang rentan terhadap penyakir karena masalah perawatan yang tidak bagus dan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat.

Perubahan cuaca panas dingin pada siang dan malam hari, kondisi sangkar yang kurang sehat, pemberian menu makanan yang kurang baik, semuanya dapat menyebabkan munculnya gangguan kesehatan pada burung. Mengacu pada tulisan mengenai penyakit pada kenari di web kenariku.tripod.com, berikut saya turunkan tulisan itu dengan  saya ubah subyek nya adalah burung pada umumnya dan bagaimana penanganannya.

Burung yang sudah terserang penyakit umumnya sangat sulit untuk disembuhkan. Kalaupun dapat disembuhkan, burung tersebut tatap harus mendapat perhatian khusus dalam waktu yang relatif lama. Jika kita menjumpai burung terserang suatu penyakit sebaiknya segera dipisahkan dan burung yang lain yang sehat agar tidak menular.

Berikut ini beberapa macam penyakit yang sering menyerang burung:

Gangguan Pernapasan
Penyakit gangguan penapasan sering menyerang burung, baik jantan maupun betina. Penyebab penyakit pemapasan adalah adanya infeksi sekunder pada saluran pernafasan oleh E. coli dan virus sejenis Mycoplasma gallisepticcum yang lebih terkenal dengan nama CRD (Chronic Respiratory Desease). Jika sudah kronis, penyakit ini sangat sukar disembuhkan dan biasanya lama-kelamaan burung yang teninfeksi penyakit ini akan mati. Penyakit pernapasan bersifat menular.

Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui kontak langsung antara burung yang terinfeksi dari burung yang sehat. Misalnya, indukan yang terinfeksi penyakit dan menyuapi anaknya, maka anak-anak burung yang disuapi akan tertular oleh penyakit tersebut. Penularan penyakit perna pasan juga dapat terjadi melalui keturunan. Anakan burung yang berasal dan indukan yang sudah terkena penyakit akan mewarisi penyakit yang dimiliki oleh induknya tersebut. Penularan penyakit pernapasan dapat juga terjadi melalui makanan, minuman, lingkungan kandang yang kurang bersih, dan makanan/minuman yang tercemar kotoran burung yang terinfeksi penyakit.

Gejala-gejala penyakit pernapasan yang tampak adalah burung sering bersin-bersin, pada malam hari yang cuacanya dingin pemapasannya ngorok, hidung lembab/basah berlendir, dan aktivitas atau gerak burung menurun. Tindakan preventif dan kuratif untuk mengatasi penyakit pemapasan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

Burung yang terinfeksi penyakit pernapasan segera diisolasi di kandang tersendiri dan diobati agar tidak menular kepada burung-burung yang lain.
 
Sangkar, tempat makan, dan tempat minum selalu dikontrol dan semua kotoran yang terdapat di dalam sangkar ataupun di dalam wadah makanan/minuman selalu dibersihkan.

Makanan yang akan diberikan dicuci bersih dan dikeringkan untuk menghilangkan kemungkinan adanya residu pestisida pertanian yang membahayakan kesehatan burung.

Minuman yang kotor segera diganti dengan air yang bersih, segar, sehat, dan tidak mengandung bahan-bahan beracun yang membahayakan kesehatan burung. Air untuk minum direbus terlebih dahulu hingga mendidih untuk membunuh semua jenis bibit penyakit yang terdapat di dalamnya.

Berak Kapur
Penyakit berak kapur banyak menyerang beberapa jenis unggas. Penyakit ini dikenal juga dengan nama penyakit Salmonellosis atau Pullorum. Penyebab penyakit mi adalah Salmonella pullorum yang menyerang saluran pencernakan. Penyakit berak kapur bersifat menular. Tanda-tanda atau gejala serangan yang dapat dilihat adalah kotoran burung berbentuk cair dan berwarna putih seperti kapur, nafsu makan menurun, pada stadium tertentu burung mengalami kesulitan membuang kotoran.

Jika diperhatikan, banyak kotoran berwarna putih melekat pada bulu di sekitar anus. Tanda lain burung yang terserang penyakit berak kapur adalah muka pucat, bulu tidak teratur, sayap menggantung, dan burung tidak bergairah.

Pencegahan terhadap timbulnya penyakit berak kapur dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan sangkar, makanan, dan minuman. Setiap han sangkar dibersihkan dan segala kotoran, termasuk kotoran burung itu sendiri. Gunakan desinfektan atau bioseptik untuk mencuci sangkar. Setiap dua han sekali, tempat pakan dan tempat minum dibersihkan. Sisa-sisa makanan dibersihkan dibuang agar tidak berjamur dan diganti dengan makanan yang baru. Demikian juga, air minum harus selalu diganti dengan air baru yang sudah direbus (matang), bersih, dan sehat (tidak mengandung bahan-bahan beracun yang berbaya).

Jika burung sudah terinfeksi penyakit berak kapur, burung tersebut harus segera dipisahkan burung dan bumng-bumng yang lain agar tidak menular. Burung yang sudah terinfeksi penyakit berak kapur diberi obat antibiotik seeara intensif sesuai dengan petunjuk yang ada. Penggunaan obat antibiotik tidak boleh sembarangan, sebab jika kita tidak tahu secara pasti justru berakibat fatal.

Snot atau coryza
Penyakit snot atau coryza disebabkan oleh virus Hemophillus gallinarum. Penyakit ini menyerang sekitar bagian muka burung sehingga menyebabkan bengkak dan muncul benjolan berwama merah di sekitar hidung, mata, dan telinga. Cara penularannya melalui perantaraan burung lain, udara, debu, makanan, dan minuman. Penularan penyakit mi juga dapat malalui keturunan. Tanda-tanda serangan penyakit snot atau coryza yang dapat dilihat adalah muka bengkak, hidung berlendir, sering bersin-bersin, sesak napas, dan nafsu makan turun. Jika tidak ditangani secara serius, lama kelamaan burung yang terserang penyakit ini akan mati.

Pencegahan terhadap serangan penyakit snot atau coryza dapat dilakukan dengan cara menjauhkan burung yang terserang penyakit dan kelompok burung yang lain agar tidak menular. Di samping itu, sangkar tempat makan, dan minum harus selalu dibersihkan dan segala kotoran. Burung yang terlanjur terserang penyakit snot atau coryza harus segera diberi obat yang sesuai.

Bubul
Penyakit bubul (bumble foot) adalahjenis penyakit yang sering menyerang hampir semua jenis burung, terutama kenari. Penyebab penyakit bubul adalah bakteri Staphylo coccus. Bakteri mi menyerang permukaan kulit, terutama kulit telapak kaki. Faktor utama yang menyebabkan timbulnya penyakit bubul adalah kebersihan sangkar, khususnya tempat bertengger.

Tanda-tanda serangan penyakit bubul yang dapat dilihat adalah kaki membengkak, kuku memanjang, sisik kaki melebar atau merenggang. Jika serangan penyakit bubul mi dibiarkan, maka lama kelamaan infeksi penyakit tersebut akan melebar dan bertambah besar.

Pencegahan terhadap serangan penyakit bubul dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan sangkar dan tempat betengger burung.

Cacingan
Cacingan adalah jenis penyakit yang menyerang saluran pencemaan dan hati. Penyebab cacingan adalah cacing, yakni cacing tambang, cacing gilig, cacing pita, dan cacing hati. Tanda-tanda serangan penyakit cacingan yang dapat dilihat adalah burung kurang bergairah, terlihat ngantukan, lemah, nafsu makan berkurang, bulu tidak teratur, kotoran berbentuk cair, dan berat badan burung menurun.

Faktor utama yang menyebabkan munculnya penyakit cacingan adalah kondisi sangkar dan tempat makan/minum yang kotor. Pencegahan terhadap serangan penyakit cacingan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan sangkar, tempat pakan, dan tempat minum. Oleh karena itu, sangkar, tempat pakan, dan tempat minum harus selalu dikontrol dan dibersihkan dan segala macam kotoran agar tidak menjadi sarang cacing.

Mencret

Penyakit mencret yang sering menyerang burung ada dua macam. Mencret yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang saluran pencemaan dan mencret yang disebabkan oleh keracunan makanan. Tanda-tanda penyakit mencret yang disebabkan oleh bekteri adalah kotoran berbentuk cair, berwama keruh, berbau busuk, aktivitas (gerak) burung menurun, dan burung tidak memiliki nafsu makan.

Sedangkan tanda-tanda mencret yang disebabkan oleh keracunan makanan adalah kotoran berbentuk cair, berwama bening dan terdapat sedikit gumpalan, tidak begitu berbau busuk, nafsu makan masih tinggi, dan aktivitas burung masih cukup tinggi. Sayuran atau EF serta buah-buahan yang kotor (tidak dicuci) dan masih mengandung residu obat pembasmi serangga (pestisida) dapat meyebabkan keracunan bagi burung.

Penyakit mencret yang disebabkan oleh bekteri bersifat menular, sedangkan penyakit mencret yang disebabkan oleh keracunan makanan tidak menular. Penularan dapat melalui tempat makan, minuman, maupun kotoran burung yang menderita penyakit tersebut. Oleh karena itu, burung yang terserang penyakit mencret harus segera dikarantina agar tidak menular pada burung-burung yang lain.

Kutu Burung
Burung juga sering diserang oleh kutu burung sehingga proses produksi dan penetasan telur yang dierami terganggu. Kutu burung yang menyerang burung jantan akan mengakibatkan suara menjadi berkurang. Burung yang terserang kutu burung menunjukkan tanda-tanda gelisah, sering menggigit-gigit bulu (Jw. didis), frekuensi suara berkurang, jika bulu burung disingkap akan tampak kutu-kutu yang bergerak di antara bulu. Jika tidak segera diobati, burung yang terserang kutu burung lama kelamaan berat badan menjadi menurun, nafsu makan akan menurun, dan akhirnya mati.

Penyebab utama serangan kutu burung adalah kondisi sangkar yang kotor, lembab, berbau, dan burung jarang mandi. Pencegahan terhadap kutu burung dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan sangkar, menyediakan air yang cukup untuk mandi, dan burung sering dijemur.

Bagaimana pengibatan tuntas kutu burung dan mendapatkan obat yang pas? Anda bisa meng-klik tautan ini.

Virus Burung
Beberapa waktu yang lalu muncul beberapa kasus terjadinya kelumpuhan anggota badan dan menurunnya daya tahan tubuh yang menurut para medis salah satu penyebabnya adalah flu burung. Kebetulan, orang yang terserang flu burung tersebut memelihara burung. Dengan demikian, banyak orang beranggapan bahwa burung merupakan pembawa virus flu burung yang membahayakan. Mungkin saja hal itu benar, namun menurut penulis kurang tepat. Sebab, virus yang menyebabkan flu burung dapat menyerang semua orang melalui perantaraan apa saja termasuk ayam, bebek, kucing, anjing, segala jenis burung, dan segala jenis hewan berbulu yang dipelihara orang.

Obat-obatan
Pengetahuan tentang jenis-jenis obat untuk unggas, khususnya burung, perlu dimiliki oleh para penghobi burung. Umumnya, obat-obatan yang perlu disediakan adalah jenis obat yang biasa digunakan untuk unggas, khususnya ayam. Namun karena saat ini sudah diproduksi beberapa obat dan sarana pencegahan penyakit pada burung sangat disarankan Anda menggunakan obat untuk burung dengan takaran sesuai yang disarankan dalam kemasan obat.

Berikut mi disajikan beberapa jenis obat yang umumnya sering digunakan oleh para petemak unggas, termasuk burung dan ayam.

Macam-macam obat yang sering digunakan untuk pengobatan unggas, termasuk burung adalah sebagai berikut

Sulfamix
Sulfamix adalah sejenis obat antibiotik yang diproduksi oleh Medion Bandung dan telah banyak dijual di toko-toko unggas (poultry). Obat mi memiliki komposisi kandungan Sulfadimethyl Pyrimididine 750 mg dan Methyl Parasept 6 mg setiap sendok teh. Obat ini dapat digunakan untuk mengobati Coccidiosis (penyakit berak darah), Pullorum (berak kapur), Coryza (snot, pilek, muka bengkak), berak hijau (Acute kolera), dan CRD (batuk, ngorok). Aturan pakai dan dosis penggunaannya dapat dilihat pada kemasan obat tersebut.

Tetra-Chlor
Tetra-Chlor merupakan obat antibiotik berbentuk kapsul dan berwama merah yang diproduksi oleh Medion Bandung. Obat ini mengandung Tetracyclin He!, Erythromyein base, Vitamin B1, B2, B12’ vitamin C, Potassium Chloride, dan Sodium Sulfate. Obat antibiotik yang mengandung vitamin dan mineral mi dapat digunakan untuk mengobati penyakit Pullorum (berak kapur), Coryza (snot, pilek,muka bengkak), Fowl cholera (berak hijau), dan CRD (batuk, ngorok). Aturan pakai dan dosis penggunaannya dapat dilihat pada kemasan obat tersebut.

Baytrill
Baytril 5% diproduksi oleh Bayer dan dapat digunakan untuk pengobatan dan peneegahan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan negatif serta mycoplasma. Obat mi berbentuk cair (drop) dan setiap mililiternya mengandung enrofloxacin 5 mg. Aturan pakai dan dosis penggunaannya dapat di!ihat pada kemasan obat tersebut.

Mycocoli
Mycocoli berupa larutan anti-bakteri spektrum luas (Enrofioxacine) yang dapat digunakan untuk membasmi hampir semua infeksi bakteri gram positif, gram negatif, dan Mycoplasma sp. Qbat mi diproduksi oleh Divasa Farmavic, Spanyol, dalam bentuk cair (drop). Obat mi mengandung Acid I -ciclopropil-7-6-fluor, I ,4-dehidro-4-oxo-3quinolincar boxilic 100 mg, dan Exipient q.s.f. 1 ml. Qbat mi dapat menyembuhkan penyakit Mycoplasmosis (nafas berbunyi, ngorok), Collibacillosis (diare), Salmonellosis (berak kapur), Infectious corvza (kepala bengkak, hidung berlendir), fowl cholera (berak hijau), Staphylococcus sp, Glostridiosis, dan Pseudomoniasis. Aturan pakai dan dosis penggunaannya dapat dilihat pada kemasan obat tersebut.

AscariStop

AscariStop (stop ascaridia galli/cacing yang biasa menyerang burung) adalah obat anti cacing yang diproduksi secara khusus . Ascaristop yang dalam kandungannya terdapat zat aktif piperazin citrate dibuat dan dikemas khusus untuk burung.

Banyak zat aktif yang bisa membunuh atau melumpuhkan cacing seperti higromisin B dan kumafos, namun untuk kedua zat ini digunakan secara khusus jika cacingan dalam kondisi akut karena keduanya mengandung antibiotika yang pemberiannya memerlukan nasihat dokter hewan. Sementara piperazin citrate memiliki efek narkotika sehingga cacing dapat dikeluarkan dalam keadaan hidup oleh adanya peristaltic usus burung. Dan penggunaan AscariStop bisa kita lakukan sendiri selama kita menurut petunjuk yang diberikan di dalam kemasan Ascaristop.

Pemberian AscariStop seyogyanya dilakukan rutin karena setiap saat bisa saja ada telur cacing masuk bersama pakan atau air yang dikonsumsi burung kesayangan kita. Referensi yang lebih mendalam tentang cacingan pada burung, bisa dilihat pada artikel: Rutinkan pemberian obat cacing pada burung.

Untuk mendapatkan AscariStop yang tidak dijual bebas, Anda bisa membaca penjelasan dengan mengklik tautan ini.

Vitamin dan mineral
Vitamin sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan burung. Pemberian vitamin pada burung dapat dilakukan setiap hari. Kita tidak perlu khawatir jika kelebihan dosis vitamin di dalam tubuh, sebab sisa vitamin yang tidak dimanfaatkan oleh tubuh burung akan terbuang melalui kotoran burung. Vitamin, selain berguna meningkatkan daya tahan tubuh, dapat meningkatkan vitalitas dan produktivitas burung. Beberapa macam vitamin yang dapat diberikan pada burung adalah vitamin A, B-kompleks, C, D, dan E.

Untuk vitamin yang dirancang khusus untuk burung ini ada yang memang diracik dan dikemas khusus untuk burung. Contohnya adalah Birdvit.

Birdvit ini mengandung hampir semua vitamin dan mineral yang diperlukan burung, antaralain:

    Vitamin utama, yakni A, D3, E, B1, B2, B3 (Nicotimanide) B6, B12, C dan K3.
    Zat esensial seperti D-L Methionine, I-Lisin HCl, Folic Acid (sesungguhnya adalah salah satu bentuk dari Vitamin B) dan Ca-D Pantothenate.
    Mineral utama seperti potasium chlorida, sodium chlorida, magnesium sulfate, mangan sulfate, iron sulfate, zinc sulfate, copper sulfate dan cobalt sulfate.

Selain mengandung multi vitamin, Birdvit memang mengandung tarce mineral, yakni pembentuk in-organik yang ada di seluruh jagad raya. Tubuh makhluk hidup dibentuk dari unsur-unsur ini. Dan unsur ini juga membantu proses kimia dan elektrik yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Proses proses kimia dan elektrik hanya akan berfungsi dengan benar apabila keseimbangan mineral yang sesuai diberikan pada sistem. Misalnya zat besi untuk darah, belerang untuk otot, kalsium untuk tulang, dan banyak lainnya yang secara umum memberikan kelancaran fungsional tubuh makhluk hidup.

Mineral dibutuhkan untuk pembentukkan darah dan tulang, keseimbangan cairan tubuh, fungsi syaraf yang sehat, fungsi system pembuluh darah jantung dan lain-lain. Seperti vitamin, mineral berfungsi sebagai ko-enzim, memungkinkan tubuh melakukan fungsinya seperti memproduksi tenaga, pertumbuhan dan penyembuhan. Meskipun vitamin begitu penting, vitamin tidak dapat melakukan apa-apa untuk makhluk hidup tanpa mineral. Celakanya tubuh makhluk hidup dapat menghasilkan beberapa vitamin, tapi tidak dapat menghasilkan satu pun mineral.

Cara Penyajian

Obat-obatan di atas umumnya dapat digunakan untuk menghadapi kasus-kasus yang berhubungan dengan penyakit yang sering menyerang burung. Penyajian obat-obatan untuk burung dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang diberikan pada kemasannya. Umumnya, adalah dengan mencampurnya dalam air minum atau dengan cara diminumkan secara langsung, baik dalam bentuk kapsul atau dengan perantaraan pipet atau kapas.

Burung yang terserang penyakit dan akan diberi obat terlebih dahulu dijemur pada sinar matahani kurang lebih satu jam. Pada saat dijemur, burung tidak diberi minuman. Siapkan obat yang akan diberikan pada tempat minum. Setelah dijemur, burung dipindahkan ke tempat yang sejuk, kemudian minuman yang telah dicampur obat dimasukkan ke dalam sangkar. Burung yang haus akan segera minum air yang telah dicampur obat tersebut. Jika obat yang telah dicampur dalam air minum tersebut tidak diminum, ambilah sepotong kapas lalu celupkan ke dalam air minum yang mengandung obat.

Pegang burung yang akan diobati, kemudian tempelkan kapas tersebut ke paruh burung. Burung akan mengisap cairan tersebut untuk diminum. Sisa minuman yang mengandung obat dapat diletakkan di dalam sangkar agar diminum oleh burung tersebut jika merasa haus. Minuman burung yang telah dicampur obat jangan dijemur karena khasiat obat tersebut akan hilang.

Perhatian:
Catatan khusus dari saya (Om Kicau) atas artikel di adalah bahwa untuk pemberian obat dalam bentuk kapsul dan kaplet atau tablet, harus hati-hati. Kalau berbentuk kapsul dengan bentuk dan ukuran yang biasa dikonsumsikan untuk manusia atau ayam, sebaiknya jangan diberikan langsung ke paruh dan diberi air. Lebih baik kapsul dibuka dan bubuk obatnya diambi. Letakkan di wadah kecil dan diberi air. Pemberian bisa langsung dengan pipet atau busa juga dengan kapas. Begitu juga dengan obat yang berbentuk kaplet atau tablet, harus dihancurkan sampai lembut dulu baru diberikan via pipet atau kapas.

Sementara khusus untuk AscariStop, Anda tidak perlu membukanya dan bisa langsung dimasukkan ke paruh burung dan dikucuri air supaya masuk. Karena memang dirancang untuk pemberian kepada burung, kapsul  Ascaristop berukuran kecil, tidak seperti kapsul untuk unggas besar seperti ayam atau kapsul untuk manusia.
sumber: agroburung.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...